BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar
belajar. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca.
Dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat, manusia harus
terus-menerus memperbarui pengetahuan
dan keterampilanya. Dalam kehidupan modern, jika tidak terus-menerus
memperbarui pengetahuan dan keterampilanya, orang mungkin akan mengalami
kesulitan dalam memperoleh lapangan pekerjaan.
Membaca semakin
penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek
kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Disamping itu, kemampuan membaca
merupakan tuntunan realitas kehidupan sehari-hari bagi manusia.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka kami mengambil beberapa permasalahan diantaranya :
1.
Bagaimana
Hakikat Membaca ?
2.
Apa Tujuan
dari Membaca ?
3.
Apa
Fungsi dari Membaca ?
4.
Bagaimana
Teori Membaca ?
1.3
Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini, kami memiliki beberapa tujian diantaranya
:
1.
Untuk
Mengetahui Hakikat Membaca.
2.
Untuk
Mengetahui Tujuan Membaca.
3.
Untuk
Mengetahui Fungsi Membaca.
4.
Untuk
Mengetahui Teori membaca.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang Konsep
Dasar dan Teori Membaca, khususnya untuk penulis dan umumnya untuk pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Hakikat
Membaca
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al- Alaq: 1-5).
Membaca
merupakan suatu proses dinamis untuk merekonstruksi suatu pesan yang secara
grafis dikehendaki (Good Man 1996). Dalam pendekatan buttom-up, membaca sebagai
proses dekoding berbagai simbol tertulis berbagai ekuivalen pendengaran dalam
bentuk linear (Nunan, 1999). Dengan demikian, dalam kegiatan membaca, pertama
kali seseorang membedakan masing-masing huruf saat ditemukan, membunyikannya,
mencocokan simbol-simbol tertulis dengan ekuivalen-ekuivalen pendengaran,
mencampurkaanya untuk membentuk kata-kata, dan memperoleh makna. Oleh kerena
itu menemukan makna sebuah kata merupakan langkah terakhir dalam proses itu.
Dalam membaca,
pembaca mengidentifikasi tugas-tugas dalam membaca, menentukan strategi untuk
memahami bacaan, memantau pemahaman, dan menilai keberhasilan. Sebagai suatu
proses teknologi, kegiatan membaca dapat mencakup interaksi membaca dengan
komputer. Dengan menggunakan program tertentu, komputer dapat mengucapkan
kata-kata untuk pembaca dan dapat membaca seluruh bacaan dengan berbagai macam
dan karakteristik suara. Dilihat sebagai hasil, dalam membaca terdapat
pencapaian komunikasi pikiran dan perasaan pembaca dengan penulis. Komunikasi
ini terjadi karena terdapat persamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan
penulis. Komunikasi ini sangat tergantung pada pemahaman yang diperoleh pembaca
dalam semua proses membaca.
Berdasarkan hakikat membaca tersebut, ternyata membaca merupakan
suatu proses yang sangat kompleks. Pada saat membaca, anak harus mampu:
a.
Merasakan
perangkat simbol pada teks bacaannya (aspek sensoris);
b.
Menginterpretasikan
apa yang dilihatnya (aspek perseptual);
c.
Mengikuti
pola-pola linear, logika, dan tata bahasa kata-kata yang ditulis (aspek
urutan);
d.
Menghubungkan
kata-kata kembali kepada pengalaman-pengalaman langsung agar bisa memberi makna
pada kata-kata yang ada (aspek pengalaman);
e.
Melakukan
inferensi dan mengevaluasi materi (aspek berfikir).
f.
Mengingat
apa yang telah dipelajari sebelumnya dan memasukkan fakta-fakta dan ide-ide
baru (aspek pembelajaran);
g.
Mengenai
hubungan antara simbol dan bunyi, antara kata dan apa yang diwakilinya (aspek
asosiasi);
h.
Berhubungan
dengan minat dan sikap yang mempengaruhi tugas membaca (aspek afektif);
i.
Mengerahkan
segalanya untuk memahami materi bacaan (aspek konstruktif).
Menurut Syafi’i (1999):7, membaca pada hakikatnya adalah suatu
proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa
kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca
mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya. Melalui
proses rekording, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta
kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses itu rangkaian tulisan
yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata,
kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Disamping gambar-gambar bunyi,
pembaca juga mengamati berbagai macam tanda baca yang harus dikenalinya.
Tanda-tanda baca membantu pembaca dalam
memahami maksud baris-baris tulisan. Keseluruhan proses membaca yang bersifat
fisik merupakan proses mekanis dalam membaca.
Proses mekanis dalam membaca berlanjut dengan proses fsikologis
berupa kegiatan berfikir dalam mengolah informasi. Proses psikologis itu
dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke
pusat kesadaran melalui sistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar
bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi
makna. Oleh karena itu, hakikat pembelajaran membaca merupakan proses memperoleh
kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang berupa fisik dan psikologis. Proses
melakukan kegiatan yang melibatkan fisik dengan proses recording atau proses
mekanis dan proses memperoleh kemampuan melakukan kegiatan yang melibatkan
psikologis dengan proses decoding atau memperoleh makna.
Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang
studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan
membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari bidang studi
pada kelas-kelas berikutnya. Kemampuan membaca tidak hanya memungkinkan
seseorang meningkatkan keterampilan kerja dan penguasaan berbagai bidang
akademik, tetapi juga memungkinkan berprestasi dalam kehidupan
sosial-budayanya, politik, dan memenuhi kebutuhan emosional. Membaca juga
bermanfaat untuk rekreasi atau memperoleh kesenangan.
Meskipun membaca merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan,
tetapi ternyata tidak mudah untuk menjelaskan tentang hakikat membaca. A.S.
Broto mengemukakan bahwa membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan atau
lambang bunyi bahasa, melainkan juga menggapai dan memahami isi bahasa tulisan.
Dengan demikian membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi
tulis.
Soedarso (1983: 4) mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas
kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah, mencakup
penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan. Manusia tidak mungkin
dapat membaca tanpa menggerakan mata dan pikiran. Bond (1975:5) mengemukakan bahwa
membaca merupakan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang
membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu
pengertian melalui pengalaman yang dimiliki.
Bertolak dari berbagai definisi membaca yang telah dikemukakan
dapat disimpulkan bahwa membaca nerupakan aktivitas kompleks yang mencakup
fisik dan mental. Aktivitas yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan
ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang
dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu
menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbol-simbol bahasa dengan tepat,
dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.
Meskipun tujuan membaca adalah untuk memahami isi bacaan, tujuan semacam
itu ternyata belum sepenuhnya dicapai oleh anak-anak, terutama pada saat awal
belajar membaca. Untuk itu kemampuan membaca bukan hanya terkait erat dengan
kematangan gerak motorik mata tetapi juga tahap perkembangan kognitif. Hornsby
(1984:43) menganjurkan agar ibu sudah mulai bercakap-cakap dengan bayi sejak
dilahirkan. Seorang ibu hendaknya juga harus menjelaskan segala yang dilakukan
bersama anak, karena menurut Hornsby anak baru memahami makna suatu kata
setelah sekitar 500 kali anak mendengarkan kata tersebut. Dengan demikian,
proses mempersiapkan anak untuk membaca harus dimulai sejak bayi dilahirkan.
Menurut Harris seperti dikutip oleh Mercer (1979:202) ada lima
tahap perkembangan membaca, yaitu :
1.
Kesiapan
membaca;
2.
Membaca
permulaan;
3.
Keterampilan
membaca cepat;
4.
Membaca
luas; dan
5.
Membaca
yang sesungguhnya.
Tahap perkembangan kesiapan membaca mencakup tentang waktu dari
sejak dilahirkan hingga pelajaran membaca diberikan umumnya pada saat masuk
kelas satu SD. Kesiapan menunjukan pada taraf perkembangan yang diperlukan
secara efisien. Menurut Krik, Kliebhan, dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer
(1979:202) ada delapan faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan
belajar membaca, yaitu :
1.
Kematangan
mental;
2.
Kemampuan
visual;
3.
Kemampuan
mendengarkan;
4.
Perkembangan
bicara dan bahasa;
5.
Keterampilan
berpikir dan memperhatikan;
6.
Perkembangan
motorik;
7.
Kematangan
sosial dan emosional; dan
8.
Motivasi
dan minat.
Mesikpun ada anak yang sudah belajar membaca awal dan ada pula yang
baru belajar membaca pada usia tujuh tahun atau delapan tahun. Sudah lama
terjadi perdebatan antara peneliti yang menekankan pendekatan simbol dengan
yang menekankan pada pengenalan kata atau kalimat secara utuh. Chalall seperti
dikutip oleh Mercer (1979:202) mengemukakan bahwa hasil penilitianya yang
dilakukan pada tahun 1967 menunjukan bahwa pendekatan yang menekankan pada
pengenalan simbol bahasa atau huruf lebih unggul daripada yang menekankan pada
pengenalan kata atau kalimat. Pada tahun 1978 Kirk, Kliebhan dan Lerner menyajikan
suatu model pendekatan ada tiga tahap belajar membaca yang terdiri dari :
1.
Membaca
keseluruhan;
2.
Membaca
rinci;
3.
Membaca
tanpa kesadaran kerincian.
Anak lebih dulu diperkenalkan pada suatu unit bahasa terkecil,
yaitu kalimat.kalimat tersebut selanjutnya dirinci menjadi kata-kata; dipecah
lagi menjadi sukukata-sukukata; dan selanjutnya dipecah-pecah lagi menjadi
huruf-huruf. Huruf-huruf tersebut selanjutnya disintesiskan lagi menjadi suku
kata, dan akhirnya menjadi kalimat yang utuh lagi.
Tahap keterampilan membaca cepat atau membaca lancar umumnya
terjadi pada saat anak-anak duduk di kelas dua atau tiga SD. Untuk menguasai
keterampilan membaca cepat menurut Mercer (1979:203) diperlukan pemahaman
tentang simbol-bunyi, dan karena itu metode tiga tahap ciptaan Krik, Kliebhan
dan Lerner sesuai untuk tahapan keterampilan membaca cepat atau untuk anak-anak
yang duduk di kelas dua atau tiga SD.
Tahap membaca luas umumnya terjadi pada saat anak-anak telah duduk
di kelas empat atau lima SD. Pada tahap ini anak-anak ini gemar dan menikmati
sekali membaca. Mereka umumnya membaca buku-buku cerita atau majalah dengan
penuh minat sehinng pelajaran membaca dirasakan mudah. Anak-anak berkesulitan
belajar membaca jarang yang mampu mencapai tahapan ini meskipun umur mereka
lebih tinggi dari teman-teman lainya.
Tahapan membaca yang sesungguhnya umumnya terjadi ketika anak-anak
duduk di SLTP dan berlanjut hingga dewasa. Pada tahap ini anak-anak tidak lagi
belajar membaca tetapi membaca untuk belajar. Mereka belajar untuk memahami,
memberikan kritik, atau untuk mempelajari bidang studi tertentu. Kemahiran
membaca pada orang dewasa pada hakikatnya tergantung pada latihan membaca yang
dilakukan pada tahapan-tahapan sebelumnya.
Dari uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa hakikat
membaca adalah memahami isi bacaan. Meskipun demikian, untuk sampai pada
kemampuan memahami isi bacaan, ada tahapan-tahapan kemampuan membaca yang perlu
dilalui. Dengan memahami adanya tahapan-tahapan kemampuan orang membaca
tersebut maka guru diharapkan dapat menyesuaikan tujuan-tujuan pembelajaran
dengan tahapan kemampuan belajar membaca tersebut.
2.2
Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh
informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat
sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
Berikut ini, kita kemukakan beberapa yang penting :
a.
Membaca
untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh
tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh
khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh.
b.
Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian
atau fakta-fakta (reading for details or facts).
c.
Membaca untuk mengetahui topik yang baik dan menarik, masalah yang
terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang apa yang dialami
tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai
tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama
(reading for mean ideas).
d.
Membaca
untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa
yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga atau seterusnya setiap tahap
dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian
buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi
cerita (reading for sequence organization).
e.
Membaca
untuk menemukan serta menetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara
mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh pengarang kepada para pembaca,
mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang
membuat mereka berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca
inferensi (reading for inference).
f.
Membaca
untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai
seorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau
tidak benar. Ini disebut
membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to
classify).
g.
Membaca
untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu,
apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja
seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi
(reading to evaluate).
h.
Membaca
untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda
dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan
bagaimana tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau
mempertentangkan (reading to compare or contrast). (Anderson 1972 : 214).
Berkaitan dengan tujuan membaca, Rivers dan
Temperly (1978) mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca:
a.
Untuk memperoleh informasi untuk suatu tujuan atau merasa penasaran
tentang suatu topik;
b.
Untuk memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas
bagi pekerjaan atau kehidupan sehari-hari (misalnya, mengetahui cara kerja
alat-alat rumah tangga);
c.
Untuk berakting dalam sebuah drama, bermain game, menyelesaikan
teka-tekiUntuk berhubungan dengan teman-teman dengan surat-menyurat atau untuk memahami
surat-surat bisnis;
d.
Untuk mengetahui kapan dan dimana sesuatu akan terjadi atau apa yang
tersedia;
e.
Untuk mengetaui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi (sebagaimana
dilaporkan dalam koran, majalah, laporan); dan
f.
Untuk memperoleh kesenangan dan hiburan.
2.3
Fungsi
Membaca
Sabda Rasulullah SAW :“Siapa saja yang menginginkan sukses di
dunia, maka raihlah dengan ilmu. Siapa saja yang menginginkan sukses di akhirat,
maka raihlah dengan ilmu. Dan siapa saja yang menginginkan sukses di dunia dan
akhirat, maka raihlah keduanya dengan ilmu.”
Kemampuan membaca
merupakan faktor yang sangat mendasar bagi pengembangan sumber daya manusia.
Kemampuan membaca bagi siswa juga merupakan kemampuan dasar dalam belajar
karena hamper semua kemampuan untuk memperoleh informasi dalam belajar
bergantung pada kemampuan tersebut. Melalui membaca, siswa dapat menggali
informasi, mempelajari pengetahuan, memperkaya pengalaman, mengembangkan
wawasan, dan mempelajari segala sesuatu. Oleh sebab itu, siswa yang tidak atau
belum mampu membaca dengan baik, akan mengalami kesulitan dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran pada semua mata pelajaran. Mereka akan mengalami
kesulitan menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku
pelajaran, buku-buku bacaan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis lain.
Kegiatan membaca
mempunyai manfaat yang sangat besar pada diri. Menurut Jordan E. Ayan (dalam
Quantum Reading, 2004:36) bahwa membaca mempunyai manfaat sebagai
berikut:
1.
Membaca menambah kosa kata dan pengetahuan akan tata bahasa dan tata kalimat.
Membaca memperkenalkan kita pada banyak ragam ungkapan kreatif. Dengan
demikian, dapat mempertajam kepekaan bahasa dan kemampuan menyatakan perasaan;
2.
Banyak buku dan artikel yang mengajak kita untuk berintropeksi diri dan
melontarkan pertanyaan serius mengenai nilai, perasaan, dan hubungan kita
dengan orang lain;
3.
Membaca memicu imajinasi. Buku atau bacaan yang baik mengajak kita
membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan
karakternya.
Dengan demikian, banyak manfaat yang dapat
kita ambil dengan kegiatan membaca. Dengan membaca, kita dapat membuka jendela
dunia. Artinya, dengan membaca maka akan didapat berbagai pengetahuan dan
informasi yang akan memperkaya dirinya dalam melihat cakrawala dunia. Dengan
membaca, kita juga akan memperoleh kesenangan. Hal ini terjadi jika yang kita
baca adalah bencana-bencana sastra, biografi tokoh, dan bacaan ringan lainnya.
Selain itu, selain membaca kita akan mendapatkan penilaian atau kritik. Ini
dapat terjadi jika yang kita baca adalah bacaan-bacaan yang berkaitan dengan
profesi kita atau kegiatan yang sering kita lakukan. Dengan membaca kita juga
akan mendapatkan nilai, sikap, ajaran-ajaran moral tertentu. Ini terjadi jika
yang kita baca adalah buku-buku semacam kitab suci maupun buku-buku kerohanian
yang lain.
Membaca juga dapat bermanfaat untuk
penyembuhan. Penyembuhan bukan hanya di artikan sebagai penyembuhan penyakit
fisik saja, tetapi juga penyakit psikis. Membaca juga dapat dijadikan tujuan
mencari pahala kelak di akhirat, bahkan mambaca merupakan ibadah yang paling
utama (setelah ibadah fardu). Membaca yang semula merupakan sarana mencari
pengetahuan ternyata dapat dijadikan tujuan. Selain tujuan mencari pahala kelak
di akhirat, membaca juga dapat dijadikan pengobat hati yang sakit dengan syarat
bacaan itu disertai dengan pemahaman. Hal itu, dapatlah dijadikan bukti bahwa
membaca dapat dijadikan sarana mempelajari ilmu. Selain itu, membaca juga dapat
dijadikan sarana mencapai tujuan melestarikan khazanah ilmiah agar
eksistensinya tetap terjaga.
Adapun Fungsi dari
membaca yaitu sebagai berikut :
1.
Sebagai
pembantu bagi seluruh mata pelajaran;
2.
Alat
untuk menambah pengetahuan;
3.
Berguna
bagi pembentukan fungsi-fungsi kejiwaan;
4.
Untuk
mengisi waktu luang.
2.4
Teori
membaca
Teori membaca adalah rincian yang
sistematis tentang proses membaca dan faktor-faktor yang mempengaruhi, yang
diharapkan dapat menggambarkan secara teknis dan jelas bagaimana proses membaca
itu berlangsung. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dengan mempelajari teori
membaca. Bagi orang awam atau pembaca umumnya, manfaat teori membaca adalah
untuk mengetahui dan meningkatkan kemampuan membacanya.
Berdasarkan
pendekatan konseptual, muncul teori membaca Goodman. Goodman (Kennith S.
Goodman), memandang membaca “sebagai proses komunikasi” dengan dasar titik
tolaknya pada linguistik terapan. Linguistik terapan yaitu sebagai sesuatu yang
mengandung pesan. Prinsip-prinsip pengajarannya adalah sebagai berikut :
1.
Membaca
selalu berlibat dengan level dan pemahaman tertentu karena membaca selalu
mengungkapkan sesuatu;
2.
Paparan
bahasa dalam tulisan harus diperhatikan;
3.
Membaca
dan menulis permulaan tidak diperkenankan menggunakan kosakata yang terlalu
besar, artinya kosakata itu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari;
4.
Bahasa
yang digunakan harus yang sudah dikenal anak;
5.
Hindari
pengunaan gambar untuk menerangkan makna;
6.
Mengusahakan
kesejajaran membaca, menyimak, dan menulis.
Kemudian Godman merevisi karyanya
dengan bertitik tolak pada “Transformasi Generatif” (Noam Chomsky). Dalam
teorinya ia memandang membaca sebagai proses recoding, decoding, encoding, dan
berakhir dengan pemahaman (komprehensi), yang ini kemudian terkenal dengan “The
Goodman Model of Reading”.
Pandangannya terhadap proses membaca
adalah sebagai berikut :
1.
Membaca
dimulai dengan bentuk bahasa tulis;
2.
Tujuan
membaca adalah merekonstruksi makna yang ada dalam diri pengarang;
3.
Ada
hubungan bahasa lisan dengan bahasa tulis, khususnya dalam penulisan tentang
alpabetis;
4.
Presepsi
visual termasuk dalam proses membaca. Artinya, proses membaca bukan dimulai
ketika seseorang memaknai kata, tetapi begitu orang melihat tanda baca, mulai
itulah proses membaca berlangsung;
5.
Bentuk
huruf, urutannya serta kelompoknya tidak membawa makna pada dirinya, maknanya
ada pada diri pengarang atau pembaca;
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam proses membaca oleh pembaca adalah sebagai berikut :
1.
Tulisan,
yang berfungsi sebagai input grafis, yaitu yang tercetak atau terlihat;
2.
Bagaimana
bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu digunakan oleh pembaca, misalnya
pemilihan kata atau diksinya;
3.
Sebrapa
banyak pengetahuan dan pengalaman pembaca yang digunakan untuk merekonstruksi
makna yang dituangkan pengarana, misalnya perbedaan profesi;
4.
Sistem
perseptual yang termasuk dalam membaca.
Berdasarkan pendekatan empirikal
dikenal bermacam-macam model teori membaca:
1.
Pandangan
yang menganggap membaca sebagai proses visual;
2.
Pandangan
yang menanggap membaca sebagai proses berpikir dan bernalar;
3.
Pandangan
yang menganggap membaca sebagai proses penerapan perangkat keterampilan;
4.
Pandangan
yang menganggap pembaca sebagai proses presepsi.
Adapun teori
membaca yaitu sebagai berikut :
a.
Membaca
Sebagai Proses Visual
Pandangan yang menganggap membaca
sebagai proses visual, memusatkan perhatian pada proses memperluas jangkauan
mata, gerak mata dipersingkat, untuk tingkat lanjut. Perintis teori ini adalah
Emile Javal. Kesimpulan hasil penelitiannya adalah bahwa pada waktu membaca
tidak bergerak dengan perlahan-lahan dari kiri ke kanan sepanjang baris-baris
kalimat bacaan, juga tidak melihat huruf-huruf dalam bacaan itu satu demi satu
kemudian menggabungkannya menjadi kata-kata. Proses membaca menurut teori
visual adalah sebagai berikut :
1.
Sebelum
membaca yang sebenarnya dimulai, pembaca mengamati bacaan secara global;
2.
Ketika
proses membaca dimulai, mata bergerak dari kiri ke kanan dengan rentang yang
tidak sama lebarnya. Tiap gerakan mata dengan pemberhentian sesaat (fiksasi
atau mencamkan) untuk memaknai yang telah dibaca;
3.
Setelah
baris yang baris pertama berakhir dibaca, selanjutnya mata membuat lompatan
panjang ke kiri, ke awal baris ke dua untuk melakukan lompatan-lompatan membaca
seperti baris pertama tadi.
Gambar gerak mata teori visual
adalah gambaran gerak mata pembaca yang tegolong sudah matang. Gambaran ini
merupakan hasil penelitian dengan teknik dan alat-alat modern.
b.
Membaca
Sebagai Proses Menerapkan Perangkat Keterampilan
Pandangan yang menganggap sebagai
proses menerapkan perangkat tokoh terkemuka dari teori ini: William S Gray.
Pendapatnya, membaca tidak lain dari kegiatan pembaca menerapkan sejumlah
keterampilan mengolah tuturan tertulis (bacaan) yang di bacanya dalam rangka
memahami bacaan itu. Jenis-jenis keterampilan yang dianggapnya mendasar
sifatnya ialah:
1.
Keterampilan
mengenal atau merokognisi kata;
2.
Keterampilan
memahami isi tersurat, yang mencakup :
a.
Keteampilan
menangkap ide pokok paragraf dan ide-ide penjelas;
b.
Keterampilan
menemukan hubungan antar ide dalam bacaan;
c.
Keteramoilan
menangkap isi pokok bacaan.
3.
Keterampilan
memahami isi yang tersurat yang meliputi:
a.
Keterampilan
mengidentifikasi tujuan atau maksud pengarang, “mood”, serta sikapnya terhadap
pembaca;
b.
Keterampilan
menalarkan pemilihan kata-kata, gaya bahasa, dan retorik dari pengarang;
c.
Keterampilan
menentukan nilai dan pungsi isi bacaan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman
yang telah di miliki sebelumnya oleh pembaca.
c.
Membaca
Sebagai Proses Persepsi
Pandangan yang menganggap pembaca
sebagai proses persepsi banyak memanfaatkan hasil studi ilmu jiwa yang mempelajari bagaimana proses
mempersepsi itu berlangsung dalam kegiatan membaca. Tokoh perintisnya: D.H.
Russel (1956). Pendapatnya: untuk memudahkan pemahaman terhadap membaca sebagai
proses mempersepsi, perlu diketahui dulu bahwa yang disebut persepsi itu dari
satu segi atau suatu hubungan yang ketiganya merupakan hasil dari suatu
pengalaman sensori. Persepsi itu adalah hasil belajar. Terbentuknya persepsi,
ada dua teori yang menerangkan:
1.
Teori
sintetik memandang bahwa persepsi terbentuk dalam proses belajar
mengasosiasikan stimulus dengan respon bermakna;
2.
Teori
analitik memandang bahwa pembentukan persepsi itu berlangsung secara bertahap. Tahap-tahp
itu adalah:
a.
Pembaca
mereaksi suatu stimulus sebagai suatu pola yang kabur;
b.
Reaksinya
tertuju pada bagian-bagian dari pola itu;
c.
Pembaca
mengintegrasikan hasil reaksi bagian-bagian itu menjadi suatu pola baru yang
jelas.
Teori persepsi
menerangkan proses pemahaman makna dalam kegiatan membaca. Dengan dasar teori
ini, pengajaran membaca disarankan untuk:
1.
Memberikan
pengalaman langsung kepada siswa sehingga persepsinya akan menjadi jelas;
2.
Memberi
peluang kepada siswa untuk menirukan sehingga mereka dapat menghayati apa yang
ditirukan itu;
3.
Membinakan
penguasaan terhadap pola bagian-bagian bacaan, yang akan memudahkan siswa
mengintegrasikannya menjadi pola keseluruhan yang utuh;
4.
Membimbing
siswa menganalisis hubungan yang akan membantu mereka memperoleh persepsi,
lebih lagi kalau stimulus yang direspon siswa rumit keadaannya;
5.
Memberi
peluang kepada siswa mengalami mengasosiasikan variasi berbagai bentukan
bahasa;
6.
Menajamkan
ingatan mereka terhadap yang telah dipahami.
Dalam setiap proses membaca, tujuan utamanya adalah menangkap makna
dari simbol verbal yang tertulis. Aspek lain dari membaca adalah menerapkan
berpikir dalam membaca, memecahkan masalah, menemukan nilai-nilai bacaan, dan
sebagainya. Teori membaca sebagai proses persepsi cukup tepat dimanfaatkan
untuk membina penguasaan keterampilan dasar dalam membaca. Jika ini telah
dikuasai, maka keterampilan-keterampilan yang lebih rumit akan ebih mudah
dikuasai.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Hakikat membaca
adalah memahami isi bacaan. Meskipun demikian, untuk sampai pada kemampuan
memahami isi bacaan, ada tahapan-tahapan kemampuan membaca yang perlu dilalui.
Dengan memahami adanya tahapan-tahapan kemampuan orang membaca tersebut maka
guru diharapkan dapat menyesuaikan tujuan-tujuan pembelajaran dengan tahapan
kemampuan belajar membaca tersebut.
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh
informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat
sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
` Adapun Fungsi dari
membaca yaitu sebagai berikut :
1.
Sebagai
pembantu bagi seluruh mata pelajaran.
2.
Alat
untuk menambah pengetahuan.
3.
Berguna
bagi pembentukan fungsi-fungsi kejiwaan.
4.
Untuk
mengisi waktu luang.
Teori membaca
adalah rincian yang sistematis tentang proses membaca dan faktor-faktor yang
mempengaruhi, yang diharapkan dapat menggambarkan secara teknis dan jelas
bagaimana proses membaca itu berlangsung. Adapun teori membaca yaitu sebagai
berikut :
1.
Membaca
sebagai proses visual.
2.
Membaca
sebagai proses menerapkan perangkat keterampilan.
3.
Membaca
sebagai proses persepsi.
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.
Rahim, Farida. 2005. Pengajaran Membaca Sekolah Dasar.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nurhadi. 2004. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan
Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Modul Bahasa Indonesia Paket 7. Konsep Dasar Membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar