Selasa, 27 Mei 2014

MAKALAH KONSEP DASAR DAN TEORI MEMBACA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut terciptanya masyarakat yang gemar belajar. Proses belajar yang efektif antara lain dilakukan melalui membaca. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat, manusia harus terus-menerus memperbarui pengetahuan  dan keterampilanya. Dalam kehidupan modern, jika tidak terus-menerus memperbarui pengetahuan dan keterampilanya, orang mungkin akan mengalami kesulitan dalam memperoleh lapangan pekerjaan.
Membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Setiap aspek kehidupan melibatkan kegiatan membaca. Disamping itu, kemampuan membaca merupakan tuntunan realitas kehidupan sehari-hari bagi manusia.


1.2         Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami mengambil beberapa permasalahan diantaranya :
1.        Bagaimana Hakikat Membaca ?
2.        Apa Tujuan dari Membaca ?
3.        Apa Fungsi dari Membaca ?
4.        Bagaimana Teori Membaca ?

1.3         Tujuan
            Dalam penyusunan makalah ini, kami memiliki beberapa tujian diantaranya :
1.        Untuk Mengetahui Hakikat Membaca.
2.        Untuk Mengetahui Tujuan Membaca.
3.        Untuk Mengetahui Fungsi Membaca.
4.        Untuk Mengetahui Teori membaca.

1.4         Manfaat
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang Konsep Dasar dan Teori Membaca, khususnya untuk penulis dan umumnya untuk pembaca.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1         Hakikat Membaca
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al- Alaq: 1-5).
Membaca merupakan suatu proses dinamis untuk merekonstruksi suatu pesan yang secara grafis dikehendaki (Good Man 1996). Dalam pendekatan buttom-up, membaca sebagai proses dekoding berbagai simbol tertulis berbagai ekuivalen pendengaran dalam bentuk linear (Nunan, 1999). Dengan demikian, dalam kegiatan membaca, pertama kali seseorang membedakan masing-masing huruf saat ditemukan, membunyikannya, mencocokan simbol-simbol tertulis dengan ekuivalen-ekuivalen pendengaran, mencampurkaanya untuk membentuk kata-kata, dan memperoleh makna. Oleh kerena itu menemukan makna sebuah kata merupakan langkah terakhir dalam proses itu.
Dalam membaca, pembaca mengidentifikasi tugas-tugas dalam membaca, menentukan strategi untuk memahami bacaan, memantau pemahaman, dan menilai keberhasilan. Sebagai suatu proses teknologi, kegiatan membaca dapat mencakup interaksi membaca dengan komputer. Dengan menggunakan program tertentu, komputer dapat mengucapkan kata-kata untuk pembaca dan dapat membaca seluruh bacaan dengan berbagai macam dan karakteristik suara. Dilihat sebagai hasil, dalam membaca terdapat pencapaian komunikasi pikiran dan perasaan pembaca dengan penulis. Komunikasi ini terjadi karena terdapat persamaan pengetahuan dan asumsi antara pembaca dan penulis. Komunikasi ini sangat tergantung pada pemahaman yang diperoleh pembaca dalam semua proses membaca.
Berdasarkan hakikat membaca tersebut, ternyata membaca merupakan suatu proses yang sangat kompleks. Pada saat membaca, anak harus mampu:
a.         Merasakan perangkat simbol pada teks bacaannya (aspek sensoris);
b.        Menginterpretasikan apa yang dilihatnya (aspek perseptual);
c.         Mengikuti pola-pola linear, logika, dan tata bahasa kata-kata yang ditulis (aspek urutan);
d.        Menghubungkan kata-kata kembali kepada pengalaman-pengalaman langsung agar bisa memberi makna pada kata-kata yang ada (aspek pengalaman);
e.         Melakukan inferensi dan mengevaluasi materi (aspek berfikir).
f.         Mengingat apa yang telah dipelajari sebelumnya dan memasukkan fakta-fakta dan ide-ide baru (aspek pembelajaran);
g.        Mengenai hubungan antara simbol dan bunyi, antara kata dan apa yang diwakilinya (aspek asosiasi);
h.        Berhubungan dengan minat dan sikap yang mempengaruhi tugas membaca (aspek afektif);
i.          Mengerahkan segalanya untuk memahami materi bacaan (aspek konstruktif).
Menurut Syafi’i (1999):7, membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya. Melalui proses rekording, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses itu rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Disamping gambar-gambar bunyi, pembaca juga mengamati berbagai macam tanda baca yang harus dikenalinya. Tanda-tanda baca  membantu pembaca dalam memahami maksud baris-baris tulisan. Keseluruhan proses membaca yang bersifat fisik merupakan proses mekanis dalam membaca.
Proses mekanis dalam membaca berlanjut dengan proses fsikologis berupa kegiatan berfikir dalam mengolah informasi. Proses psikologis itu dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melalui sistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Oleh karena itu, hakikat pembelajaran membaca merupakan proses memperoleh kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang berupa fisik dan psikologis. Proses melakukan kegiatan yang melibatkan fisik dengan proses recording atau proses mekanis dan proses memperoleh kemampuan melakukan kegiatan yang melibatkan psikologis dengan proses decoding atau memperoleh makna.
Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Kemampuan membaca tidak hanya memungkinkan seseorang meningkatkan keterampilan kerja dan penguasaan berbagai bidang akademik, tetapi juga memungkinkan berprestasi dalam kehidupan sosial-budayanya, politik, dan memenuhi kebutuhan emosional. Membaca juga bermanfaat untuk rekreasi atau memperoleh kesenangan.
Meskipun membaca merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan, tetapi ternyata tidak mudah untuk menjelaskan tentang hakikat membaca. A.S. Broto mengemukakan bahwa membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menggapai dan memahami isi bahasa tulisan. Dengan demikian membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis.
Soedarso (1983: 4) mengemukakan bahwa membaca merupakan aktivitas kompleks yang memerlukan sejumlah besar tindakan terpisah-pisah, mencakup penggunaan pengertian, khayalan, pengamatan, dan ingatan. Manusia tidak mungkin dapat membaca tanpa menggerakan mata dan pikiran. Bond (1975:5) mengemukakan bahwa membaca merupakan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca, untuk membangun suatu pengertian melalui pengalaman yang dimiliki.
Bertolak dari berbagai definisi membaca yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa membaca nerupakan aktivitas kompleks yang mencakup fisik dan mental. Aktivitas yang terkait dengan membaca adalah gerak mata dan ketajaman penglihatan. Aktivitas mental mencakup ingatan dan pemahaman. Orang dapat membaca dengan baik jika mampu melihat huruf-huruf dengan jelas, mampu menggerakkan mata secara lincah, mengingat simbol-simbol bahasa dengan tepat, dan memiliki penalaran yang cukup untuk memahami bacaan.
Meskipun tujuan membaca adalah untuk memahami isi bacaan, tujuan semacam itu ternyata belum sepenuhnya dicapai oleh anak-anak, terutama pada saat awal belajar membaca. Untuk itu kemampuan membaca bukan hanya terkait erat dengan kematangan gerak motorik mata tetapi juga tahap perkembangan kognitif. Hornsby (1984:43) menganjurkan agar ibu sudah mulai bercakap-cakap dengan bayi sejak dilahirkan. Seorang ibu hendaknya juga harus menjelaskan segala yang dilakukan bersama anak, karena menurut Hornsby anak baru memahami makna suatu kata setelah sekitar 500 kali anak mendengarkan kata tersebut. Dengan demikian, proses mempersiapkan anak untuk membaca harus dimulai sejak bayi dilahirkan.
Menurut Harris seperti dikutip oleh Mercer (1979:202) ada lima tahap perkembangan membaca, yaitu :
1.        Kesiapan membaca;
2.        Membaca permulaan;
3.        Keterampilan membaca cepat;
4.        Membaca luas; dan
5.        Membaca yang sesungguhnya.
Tahap perkembangan kesiapan membaca mencakup tentang waktu dari sejak dilahirkan hingga pelajaran membaca diberikan umumnya pada saat masuk kelas satu SD. Kesiapan menunjukan pada taraf perkembangan yang diperlukan secara efisien. Menurut Krik, Kliebhan, dan Lerner seperti dikutip oleh Mercer (1979:202) ada delapan faktor yang memberikan sumbangan bagi keberhasilan belajar membaca, yaitu :
1.        Kematangan mental;
2.        Kemampuan visual;
3.        Kemampuan mendengarkan;
4.        Perkembangan bicara dan bahasa;
5.        Keterampilan berpikir dan memperhatikan;
6.        Perkembangan motorik;
7.        Kematangan sosial dan emosional; dan
8.        Motivasi dan minat.
Mesikpun ada anak yang sudah belajar membaca awal dan ada pula yang baru belajar membaca pada usia tujuh tahun atau delapan tahun. Sudah lama terjadi perdebatan antara peneliti yang menekankan pendekatan simbol dengan yang menekankan pada pengenalan kata atau kalimat secara utuh. Chalall seperti dikutip oleh Mercer (1979:202) mengemukakan bahwa hasil penilitianya yang dilakukan pada tahun 1967 menunjukan bahwa pendekatan yang menekankan pada pengenalan simbol bahasa atau huruf lebih unggul daripada yang menekankan pada pengenalan kata atau kalimat. Pada tahun 1978 Kirk, Kliebhan dan Lerner menyajikan suatu model pendekatan ada tiga tahap belajar membaca yang terdiri dari :
1.        Membaca keseluruhan;
2.        Membaca rinci;
3.        Membaca tanpa kesadaran kerincian.
Anak lebih dulu diperkenalkan pada suatu unit bahasa terkecil, yaitu kalimat.kalimat tersebut selanjutnya dirinci menjadi kata-kata; dipecah lagi menjadi sukukata-sukukata; dan selanjutnya dipecah-pecah lagi menjadi huruf-huruf. Huruf-huruf tersebut selanjutnya disintesiskan lagi menjadi suku kata, dan akhirnya menjadi kalimat yang utuh lagi.
Tahap keterampilan membaca cepat atau membaca lancar umumnya terjadi pada saat anak-anak duduk di kelas dua atau tiga SD. Untuk menguasai keterampilan membaca cepat menurut Mercer (1979:203) diperlukan pemahaman tentang simbol-bunyi, dan karena itu metode tiga tahap ciptaan Krik, Kliebhan dan Lerner sesuai untuk tahapan keterampilan membaca cepat atau untuk anak-anak yang duduk di kelas dua atau tiga SD.
Tahap membaca luas umumnya terjadi pada saat anak-anak telah duduk di kelas empat atau lima SD. Pada tahap ini anak-anak ini gemar dan menikmati sekali membaca. Mereka umumnya membaca buku-buku cerita atau majalah dengan penuh minat sehinng pelajaran membaca dirasakan mudah. Anak-anak berkesulitan belajar membaca jarang yang mampu mencapai tahapan ini meskipun umur mereka lebih tinggi dari teman-teman lainya.
Tahapan membaca yang sesungguhnya umumnya terjadi ketika anak-anak duduk di SLTP dan berlanjut hingga dewasa. Pada tahap ini anak-anak tidak lagi belajar membaca tetapi membaca untuk belajar. Mereka belajar untuk memahami, memberikan kritik, atau untuk mempelajari bidang studi tertentu. Kemahiran membaca pada orang dewasa pada hakikatnya tergantung pada latihan membaca yang dilakukan pada tahapan-tahapan sebelumnya.
Dari uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa hakikat membaca adalah memahami isi bacaan. Meskipun demikian, untuk sampai pada kemampuan memahami isi bacaan, ada tahapan-tahapan kemampuan membaca yang perlu dilalui. Dengan memahami adanya tahapan-tahapan kemampuan orang membaca tersebut maka guru diharapkan dapat menyesuaikan tujuan-tujuan pembelajaran dengan tahapan kemampuan belajar membaca tersebut.
2.2         Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca. Berikut ini, kita kemukakan beberapa yang penting :
a.         Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang dibuat oleh tokoh.
b.        Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).
c.         Membaca untuk mengetahui topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang apa yang dialami tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for mean ideas).
d.        Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga atau seterusnya setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian buat dramatisasi. Ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence organization).
e.         Membaca untuk menemukan serta menetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).
f.         Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).
g.        Membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate).
h.        Membaca untuk menemukan bagaimana caranya tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan bagaimana tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast). (Anderson 1972 : 214).
Berkaitan dengan tujuan membaca, Rivers dan Temperly (1978) mengajukan tujuh tujuan utama dalam membaca:
a.         Untuk memperoleh informasi untuk suatu tujuan atau merasa penasaran tentang suatu topik;
b.        Untuk memperoleh berbagai petunjuk tentang cara melakukan suatu tugas bagi pekerjaan atau kehidupan sehari-hari (misalnya, mengetahui cara kerja alat-alat rumah tangga);
c.         Untuk berakting dalam sebuah drama, bermain game, menyelesaikan teka-tekiUntuk berhubungan dengan teman-teman dengan surat-menyurat atau untuk memahami surat-surat bisnis;
d.        Untuk mengetahui kapan dan dimana sesuatu akan terjadi atau apa yang tersedia;
e.         Untuk mengetaui apa yang sedang terjadi atau telah terjadi (sebagaimana dilaporkan dalam koran, majalah, laporan); dan
f.         Untuk memperoleh kesenangan dan hiburan.

2.3         Fungsi Membaca
Sabda Rasulullah SAW :“Siapa saja yang menginginkan sukses di dunia, maka raihlah dengan ilmu. Siapa saja yang menginginkan sukses di akhirat, maka raihlah dengan ilmu. Dan siapa saja yang menginginkan sukses di dunia dan akhirat, maka raihlah keduanya dengan ilmu.”
            Kemampuan membaca merupakan faktor yang sangat mendasar bagi pengembangan sumber daya manusia. Kemampuan membaca bagi siswa juga merupakan kemampuan dasar dalam belajar karena hamper semua kemampuan untuk memperoleh informasi dalam belajar bergantung pada kemampuan tersebut. Melalui membaca, siswa dapat menggali informasi, mempelajari pengetahuan, memperkaya pengalaman, mengembangkan wawasan, dan mempelajari segala sesuatu. Oleh sebab itu, siswa yang tidak atau belum mampu membaca dengan baik, akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran pada semua mata pelajaran. Mereka akan mengalami kesulitan menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bacaan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis lain.
            Kegiatan membaca mempunyai manfaat yang sangat besar pada diri. Menurut Jordan E. Ayan (dalam Quantum Reading, 2004:36) bahwa membaca mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.        Membaca menambah kosa kata dan pengetahuan akan tata bahasa dan tata kalimat. Membaca memperkenalkan kita pada banyak ragam ungkapan kreatif. Dengan demikian, dapat mempertajam kepekaan bahasa dan kemampuan menyatakan perasaan;
2.        Banyak buku dan artikel yang mengajak kita untuk berintropeksi diri dan melontarkan pertanyaan serius mengenai nilai, perasaan, dan hubungan kita dengan orang lain;
3.        Membaca memicu imajinasi. Buku atau bacaan yang baik mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap dengan segala kejadian, lokasi, dan karakternya.
Dengan demikian, banyak manfaat yang dapat kita ambil dengan kegiatan membaca. Dengan membaca, kita dapat membuka jendela dunia. Artinya, dengan membaca maka akan didapat berbagai pengetahuan dan informasi yang akan memperkaya dirinya dalam melihat cakrawala dunia. Dengan membaca, kita juga akan memperoleh kesenangan. Hal ini terjadi jika yang kita baca adalah bencana-bencana sastra, biografi tokoh, dan bacaan ringan lainnya. Selain itu, selain membaca kita akan mendapatkan penilaian atau kritik. Ini dapat terjadi jika yang kita baca adalah bacaan-bacaan yang berkaitan dengan profesi kita atau kegiatan yang sering kita lakukan. Dengan membaca kita juga akan mendapatkan nilai, sikap, ajaran-ajaran moral tertentu. Ini terjadi jika yang kita baca adalah buku-buku semacam kitab suci maupun buku-buku kerohanian yang lain.
Membaca juga dapat bermanfaat untuk penyembuhan. Penyembuhan bukan hanya di artikan sebagai penyembuhan penyakit fisik saja, tetapi juga penyakit psikis. Membaca juga dapat dijadikan tujuan mencari pahala kelak di akhirat, bahkan mambaca merupakan ibadah yang paling utama (setelah ibadah fardu). Membaca yang semula merupakan sarana mencari pengetahuan ternyata dapat dijadikan tujuan. Selain tujuan mencari pahala kelak di akhirat, membaca juga dapat dijadikan pengobat hati yang sakit dengan syarat bacaan itu disertai dengan pemahaman. Hal itu, dapatlah dijadikan bukti bahwa membaca dapat dijadikan sarana mempelajari ilmu. Selain itu, membaca juga dapat dijadikan sarana mencapai tujuan melestarikan khazanah ilmiah agar eksistensinya tetap terjaga.
      Adapun Fungsi dari membaca yaitu sebagai berikut :
1.      Sebagai pembantu bagi seluruh mata pelajaran;
2.      Alat untuk menambah pengetahuan;
3.      Berguna bagi pembentukan fungsi-fungsi kejiwaan;
4.      Untuk mengisi waktu luang.

2.4         Teori membaca
            Teori membaca adalah rincian yang sistematis tentang proses membaca dan faktor-faktor yang mempengaruhi, yang diharapkan dapat menggambarkan secara teknis dan jelas bagaimana proses membaca itu berlangsung. Banyak manfaat yang dapat kita ambil dengan mempelajari teori membaca. Bagi orang awam atau pembaca umumnya, manfaat teori membaca adalah untuk mengetahui dan meningkatkan kemampuan membacanya.
            Berdasarkan pendekatan konseptual, muncul teori membaca Goodman. Goodman (Kennith S. Goodman), memandang membaca “sebagai proses komunikasi” dengan dasar titik tolaknya pada linguistik terapan. Linguistik terapan yaitu sebagai sesuatu yang mengandung pesan. Prinsip-prinsip pengajarannya adalah sebagai berikut :
1.        Membaca selalu berlibat dengan level dan pemahaman tertentu karena membaca selalu mengungkapkan sesuatu;
2.        Paparan bahasa dalam tulisan harus diperhatikan;
3.        Membaca dan menulis permulaan tidak diperkenankan menggunakan kosakata yang terlalu besar, artinya kosakata itu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari;
4.        Bahasa yang digunakan harus yang sudah dikenal anak;
5.        Hindari pengunaan gambar untuk menerangkan makna;
6.        Mengusahakan kesejajaran membaca, menyimak, dan menulis.
            Kemudian Godman merevisi karyanya dengan bertitik tolak pada “Transformasi Generatif” (Noam Chomsky). Dalam teorinya ia memandang membaca sebagai proses recoding, decoding, encoding, dan berakhir dengan pemahaman (komprehensi), yang ini kemudian terkenal dengan “The Goodman Model of Reading”.
            Pandangannya terhadap proses membaca adalah sebagai berikut :
1.        Membaca dimulai dengan bentuk bahasa tulis;
2.        Tujuan membaca adalah merekonstruksi makna yang ada dalam diri pengarang;
3.        Ada hubungan bahasa lisan dengan bahasa tulis, khususnya dalam penulisan tentang alpabetis;
4.        Presepsi visual termasuk dalam proses membaca. Artinya, proses membaca bukan dimulai ketika seseorang memaknai kata, tetapi begitu orang melihat tanda baca, mulai itulah proses membaca berlangsung;
5.        Bentuk huruf, urutannya serta kelompoknya tidak membawa makna pada dirinya, maknanya ada pada diri pengarang atau pembaca;
            Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses membaca oleh pembaca adalah sebagai berikut :
1.        Tulisan, yang berfungsi sebagai input grafis, yaitu yang tercetak atau terlihat;
2.        Bagaimana bahasa itu bekerja dan bagaimana bahasa itu digunakan oleh pembaca, misalnya pemilihan kata atau diksinya;
3.        Sebrapa banyak pengetahuan dan pengalaman pembaca yang digunakan untuk merekonstruksi makna yang dituangkan pengarana, misalnya perbedaan profesi;
4.        Sistem perseptual yang termasuk dalam membaca.
              Berdasarkan pendekatan empirikal dikenal bermacam-macam model teori membaca:
1.        Pandangan yang menganggap membaca sebagai proses visual;
2.        Pandangan yang menanggap membaca sebagai proses berpikir dan bernalar;
3.        Pandangan yang menganggap membaca sebagai proses penerapan perangkat keterampilan;
4.        Pandangan yang menganggap pembaca sebagai proses presepsi.
     
Adapun teori membaca yaitu sebagai berikut :    
a.         Membaca Sebagai Proses Visual
            Pandangan yang menganggap membaca sebagai proses visual, memusatkan perhatian pada proses memperluas jangkauan mata, gerak mata dipersingkat, untuk tingkat lanjut. Perintis teori ini adalah Emile Javal. Kesimpulan hasil penelitiannya adalah bahwa pada waktu membaca tidak bergerak dengan perlahan-lahan dari kiri ke kanan sepanjang baris-baris kalimat bacaan, juga tidak melihat huruf-huruf dalam bacaan itu satu demi satu kemudian menggabungkannya menjadi kata-kata. Proses membaca menurut teori visual adalah sebagai berikut :
1.        Sebelum membaca yang sebenarnya dimulai, pembaca mengamati bacaan secara global;
2.        Ketika proses membaca dimulai, mata bergerak dari kiri ke kanan dengan rentang yang tidak sama lebarnya. Tiap gerakan mata dengan pemberhentian sesaat (fiksasi atau mencamkan) untuk memaknai yang telah dibaca;
3.        Setelah baris yang baris pertama berakhir dibaca, selanjutnya mata membuat lompatan panjang ke kiri, ke awal baris ke dua untuk melakukan lompatan-lompatan membaca seperti baris pertama tadi.
            Gambar gerak mata teori visual adalah gambaran gerak mata pembaca yang tegolong sudah matang. Gambaran ini merupakan hasil penelitian dengan teknik dan alat-alat modern.
b.        Membaca Sebagai Proses Menerapkan Perangkat Keterampilan
            Pandangan yang menganggap sebagai proses menerapkan perangkat tokoh terkemuka dari teori ini: William S Gray. Pendapatnya, membaca tidak lain dari kegiatan pembaca menerapkan sejumlah keterampilan mengolah tuturan tertulis (bacaan) yang di bacanya dalam rangka memahami bacaan itu. Jenis-jenis keterampilan yang dianggapnya mendasar sifatnya ialah:
1.        Keterampilan mengenal atau merokognisi kata;
2.        Keterampilan memahami isi tersurat, yang mencakup :
a.          Keteampilan menangkap ide pokok paragraf dan ide-ide penjelas;
b.         Keterampilan menemukan hubungan antar ide dalam bacaan;
c.          Keteramoilan menangkap isi pokok bacaan.
3.        Keterampilan memahami isi yang tersurat yang meliputi:
a.         Keterampilan mengidentifikasi tujuan atau maksud pengarang, “mood”, serta sikapnya terhadap pembaca;
b.         Keterampilan menalarkan pemilihan kata-kata, gaya bahasa, dan retorik dari pengarang;
c.         Keterampilan menentukan nilai dan pungsi isi bacaan berdasarkan pengetahuan serta pengalaman yang telah di miliki sebelumnya oleh pembaca.
c.         Membaca Sebagai Proses Persepsi
               Pandangan yang menganggap pembaca sebagai proses persepsi banyak memanfaatkan hasil studi ilmu  jiwa yang mempelajari bagaimana proses mempersepsi itu berlangsung dalam kegiatan membaca. Tokoh perintisnya: D.H. Russel (1956). Pendapatnya: untuk memudahkan pemahaman terhadap membaca sebagai proses mempersepsi, perlu diketahui dulu bahwa yang disebut persepsi itu dari satu segi atau suatu hubungan yang ketiganya merupakan hasil dari suatu pengalaman sensori. Persepsi itu adalah hasil belajar. Terbentuknya persepsi, ada dua teori yang menerangkan:
1.        Teori sintetik memandang bahwa persepsi terbentuk dalam proses belajar mengasosiasikan stimulus dengan respon bermakna;
2.        Teori analitik memandang bahwa pembentukan persepsi itu berlangsung secara bertahap. Tahap-tahp itu adalah:
a.         Pembaca mereaksi suatu stimulus sebagai suatu pola yang kabur;
b.         Reaksinya tertuju pada bagian-bagian dari pola itu;
c.         Pembaca mengintegrasikan hasil reaksi bagian-bagian itu menjadi suatu pola baru yang jelas.
Teori persepsi menerangkan proses pemahaman makna dalam kegiatan membaca. Dengan dasar teori ini, pengajaran membaca disarankan untuk:
1.        Memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga persepsinya akan menjadi jelas;
2.        Memberi peluang kepada siswa untuk menirukan sehingga mereka dapat menghayati apa yang ditirukan itu;
3.        Membinakan penguasaan terhadap pola bagian-bagian bacaan, yang akan memudahkan siswa mengintegrasikannya menjadi pola keseluruhan yang utuh;
4.        Membimbing siswa menganalisis hubungan yang akan membantu mereka memperoleh persepsi, lebih lagi kalau stimulus yang direspon siswa rumit keadaannya;
5.        Memberi peluang kepada siswa mengalami mengasosiasikan variasi berbagai bentukan bahasa;
6.        Menajamkan ingatan mereka terhadap yang telah dipahami.
Dalam setiap proses membaca, tujuan utamanya adalah menangkap makna dari simbol verbal yang tertulis. Aspek lain dari membaca adalah menerapkan berpikir dalam membaca, memecahkan masalah, menemukan nilai-nilai bacaan, dan sebagainya. Teori membaca sebagai proses persepsi cukup tepat dimanfaatkan untuk membina penguasaan keterampilan dasar dalam membaca. Jika ini telah dikuasai, maka keterampilan-keterampilan yang lebih rumit akan ebih mudah dikuasai.





















BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Hakikat membaca adalah memahami isi bacaan. Meskipun demikian, untuk sampai pada kemampuan memahami isi bacaan, ada tahapan-tahapan kemampuan membaca yang perlu dilalui. Dengan memahami adanya tahapan-tahapan kemampuan orang membaca tersebut maka guru diharapkan dapat menyesuaikan tujuan-tujuan pembelajaran dengan tahapan kemampuan belajar membaca tersebut.
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
`     Adapun Fungsi dari membaca yaitu sebagai berikut :
1.        Sebagai pembantu bagi seluruh mata pelajaran.
2.        Alat untuk menambah pengetahuan.
3.        Berguna bagi pembentukan fungsi-fungsi kejiwaan.
4.        Untuk mengisi waktu luang.
Teori membaca adalah rincian yang sistematis tentang proses membaca dan faktor-faktor yang mempengaruhi, yang diharapkan dapat menggambarkan secara teknis dan jelas bagaimana proses membaca itu berlangsung. Adapun teori membaca yaitu sebagai berikut :   
1.        Membaca sebagai proses visual.
2.        Membaca sebagai proses menerapkan perangkat keterampilan.
3.        Membaca sebagai proses persepsi.






DAFTAR PUSTAKA

Tarigan, Henry Guntur. 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.
Rahim, Farida. 2005. Pengajaran Membaca Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nurhadi. 2004. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Modul Bahasa Indonesia Paket 7. Konsep Dasar Membaca.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar