Satu hal yang acap dikenang oleh
alumni Pesantren Darussalam adalah kebersahajaan pesantren ini dalam keseharian
santrinya. Bahkan, seperti yang kerap terucap dari K.H. Irfan Hielmy
(Alm)-pendiri Pesantren Modern Darussalam yang selalu mengajarkan kebersahajaan-
setiap kali menerima kunjungan tamu, selalu disambut dengan kalimat yang sama,
seolah menegaskan bagaimana seharusnya santri Darussalam mengambil posisi
dengan kerendah-hatian, "selamat datang di tempat kami, pesantren yang
sangat sederhana."
Adalah suami-istri Mas Astapradja
dan Siti Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa
Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat kepada K.H. Ahmad
Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan santri, Pesantren Tjidewa menapaki guratan
sejarah dengan optimisme menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran islam.
Menjelang proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945, di Pesantren Tjidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji
ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah dan perbandingan madzhab, di samping
kitab-kitab ilmu sharaf dan ilmu nahwu.
Keputusan K.H. Ahmad Fadlil dengan
hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak
bisa terlepas dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Akan
tetapi karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari cengkraman
penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda,
K.H. Ahmad Fadlil juga mengajarkan strategi berdiplomasi mengatasi tekanan
penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda yang didapat dari
kakeknya sejak di Sekolah Rakyat (Vervolg School)- dengan mudah bisa
menyerap berbagai informasi yang kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.
Lebih dari itu, penguasaan terhadap
teks berbahasa Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapalkan
kitab-kitab seperti Jauharul Maknun, 'Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan
syair-syair nya. Bahkan, pada usia 31 tahun ia telah berhasil menerjemahkan
Qashidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri. Sampai sekarang, Qashidah
Burdah berbahasa sunda yang merupakan karya terjemahan masterpiece K.H.
Ahmad Fadlil masih terdengar dibaca dan didendangkan oleh santri-santri di
banyak pesantren tradisional terutama di Jawa Barat.
Melalui sejarah yang panjang
(berdiri tahun 1929 oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam
telah berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat menggembirakan. Pondok
Pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal
Kiayi, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sederhana, kini telah
memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa diantaranya cukup
megah.
Disamping peningkatan fasilitas dan
sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting lain adalah
pengembangan sistem pendidikannya. ketika di banyak Pondok Pesantren lain masih
mengkhususkan pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk
menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasawarsa 60-an, Pesantren
Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan formal.
Pada tahun 1967, mulai dirintis
penyelenggaraan sistem pendidikan modern dengan mengadaptasi model klasikal dan
sampai saat ini semua jenjang pendidikan dar mulai Taman Kanak-kanak (TK) (di
Pesantren Darussalam disebut Raudlatul Athfal/RA) hingga perguruan tinggi telah
ada di pesantren ini.
Lembaga pendidikan formal yang
pertama didirikan adalah Raudlatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967,
kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), lalu
Madrasah Tsanawiyah Darussalam/MTsD (setingkat SMP) pada tahun 1968. kemudian berdiri
Madrasah Aliyah Negeri Darussalam (setingkat SMA) pada tahun 1969. Selanjutnya
didirikan SMA Plus Darussalam yang merupakan lembaga pendidikan swasta pada
tahun 2003. Sedangkan Pendidikan Tinggi (PT) di Pondok Pesantren Darussalam
adalah berbentuk Institut yang didirikan pada tahun 1970, dengan nama Institut
Agama Islam Darussalam (IAID) yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam yang
menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok
Pesantren Darussalam. Disamping itu, pada tahun 1995 diselenggarakan pula
Ma'had 'Aly, yaitu pendidikan tinggi Pesantren Darussalam. Mahasantri Ma'had
'Aly ini terdiri dari lulusan Madrasah Aliyah dan para mahasiswa Institut Agama
Islam Darussalam dari berbagai fakultas yang memenuhi persyaratan, diantaranya
telah mampu membaca kitab-kitab kuning. Satu hal yang acap dikenang oleh alumni
Pesantren Darussalam adalah kebersahajaan pesantren ini dalam keseharian
santrinya. Bahkan, seperti yang kerap terucap dari K.H. Irfan Hielmy
(Alm)-pendiri Pesantren Modern Darussalam yang selalu mengajarkan
kebersahajaan- setiap kali menerima kunjungan tamu, selalu disambut dengan
kalimat yang sama, seolah menegaskan bagaimana seharusnya santri Darussalam
mengambil posisi dengan kerendah-hatian, "selamat datang di tempat
kami, pesantren yang sangat sederhana."
Ihwal kebersahajaan dan kesederhanaan
Darussalam ternyata sama tuanya dengan sejarah pesantren ini. Nun di
paruh 1929, 84 tahun silam, K.H. Ahmad Fadlil (wafat th. 1950), ayahanda K.H.
Irfan Hielmy (wafat th. 2010), memulai kisah kebersahajaan dengan sebuah masjid
dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama kali mondok adalah
pemuda-pemuda setempat yang tidak hanya diajari ilmu-ilmu agama, akan tetapi
diajak mengolah sawah, bercocok tanam dan diberi contoh bagaimana memelihara
bilik dan memakmurkan masjid. Pesantren Tjidewa, sebutan untuk komunitas baru
itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar dan
lebih banyak lagi santri yang mondok.
Adalah suami-istri Mas Astapradja
dan Siti Hasanah yang mewakafkan tanahnya di Kampung Kandanggajah, Desa
Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis Jawa Barat kepada K.H. Ahmad
Fadlil. Dibantu oleh masyarakat dan santri, Pesantren Tjidewa menapaki guratan
sejarah dengan optimisme menghilangkan benalu yang menempel dalam ajaran islam.
Menjelang proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945, di Pesantren Tjidewa sudah mondok 400 orang santri yang mengaji
ilmu tafsir, ilmu hadits, sejarah dan perbandingan madzhab, di samping
kitab-kitab ilmu sharaf dan ilmu nahwu.
Keputusan K.H. Ahmad Fadlil dengan
hanya menerima santri putra tidak terlepas dari kondisi saat itu yang tidak
bisa terlepas dari kontelasi keamanan akibat penjajahan Belanda. Akan
tetapi karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari cengkraman
penjajah dan ditambah dengan meluapnya semangat santri untuk menghalau Belanda,
K.H. Ahmad Fadlil juga mengajarkan strategi berdiplomasi mengatasi tekanan
penjajah. Apalagi dengan kemampuannya berbahasa Belanda yang didapat dari
kakeknya sejak di Sekolah Rakyat (Vervolg School)- dengan mudah bisa
menyerap berbagai informasi yang kelak berguna sebagai modal berdiplomasi.
Lebih dari itu, penguasaan terhadap
teks berbahasa Arab telah tampak sejak Ahmad Fadlil muda berhasil menghapalkan
kitab-kitab seperti Jauharul Maknun, 'Uqudul Juman, Talkhisul Miftah dan
syair-syair nya. Bahkan, pada usia 31 tahun ia telah berhasil menerjemahkan
Qashidah Burdah karya Muhammad Said al-Busyiri. Sampai sekarang, Qashidah
Burdah berbahasa sunda yang merupakan karya terjemahan masterpiece K.H.
Ahmad Fadlil masih terdengar dibaca dan didendangkan oleh santri-santri di
banyak pesantren tradisional terutama di Jawa Barat.
Melalui sejarah yang panjang
(berdiri tahun 1929 oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam
telah berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat menggembirakan. Pondok
Pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal
Kiayi, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sederhana, kini telah
memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa diantaranya cukup
megah.
Disamping peningkatan fasilitas dan
sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting lain adalah
pengembangan sistem pendidikannya. ketika di banyak Pondok Pesantren lain masih
mengkhususkan pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk
menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasawarsa 60-an, Pesantren
Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan
lembaga-lembaga pendidikan formal.
Pada tahun 1967, mulai dirintis
penyelenggaraan sistem pendidikan modern dengan mengadaptasi model klasikal dan
sampai saat ini semua jenjang pendidikan dar mulai Taman Kanak-kanak (TK) (di
Pesantren Darussalam disebut Raudlatul Athfal/RA) hingga perguruan tinggi telah
ada di pesantren ini.
Lembaga pendidikan formal yang
pertama didirikan adalah Raudlatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967,
kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), lalu
Madrasah Tsanawiyah Darussalam/MTsD (setingkat SMP) pada tahun 1968. kemudian
berdiri Madrasah Aliyah Negeri Darussalam (setingkat SMA) pada tahun 1969.
Selanjutnya didirikan SMA Plus Darussalam yang merupakan lembaga pendidikan
swasta pada tahun 2003. Sedangkan Pendidikan Tinggi (PT) di Pondok Pesantren
Darussalam adalah berbentuk Institut yang didirikan pada tahun 1970, dengan
nama Institut Agama Islam Darussalam (IAID) yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam
yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok
Pesantren Darussalam. Disamping itu, pada tahun 1995 diselenggarakan pula
Ma'had 'Aly, yaitu pendidikan tinggi Pesantren Darussalam. Mahasantri Ma'had
'Aly ini terdiri dari lulusan Madrasah Aliyah dan para mahasiswa Institut Agama
Islam Darussalam dari berbagai fakultas yang memenuhi persyaratan, diantaranya
telah mampu membaca kitab-kitab kuning.
Visi
Pesantren
Darussalam sebagai pusat lembaga pendidikan Islam yang menyiapkan
pemimpin-pemimpin masa depan
Misi
1.
Menggelorakan semangat pemurnian ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran Ahlussunnah
wa al-Jama'ah yang bersumber pada al-Qur'an dan as-Sunnah.
2.
Membina budaya kesalihan (kesalihan individu dan kesalihan sosial) dan budaya
kepakaran (asketisme intelektual) di kalangan santri dan masyarakat.
3.
Mengembangkan dan melestarikan ilmu-ilmu agama Islam yang tertuang dalam
kitab-kitab kuning dan litelatur-litelatur modern.
4.
Mendukung, melaksanakan dan mengamankan pembangunan nasional di segala bidang
secara proaktif, dinamis, ikhlas dan bertanggung jawab.
Tujuan
1.
Berjiwa Islami, berwawasan kebangsaan dan berkepribadian utuh.
2.
Bersifat terbuka dan tanggap terhadap perkembangan ilmu-ilmu Bahasa arab dan
ilmu-ilmu agama Islam terhadap kemajuan IPTEK dan masalah yang dihadapi oleh
masyarakat.
3.
Menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sesuai dengan bidang
keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan pada masyarakat.
4.
Menguasai dasar-dasar agama Islam beserta metodologi bidang keahliannya
sehingga mampu memahami, menjelaskan dan merumuskan cara penyelesaian masalah
yang ada di kawasan keahliannya, serta mampu berfikir, bersikap dan bertindak
sebagai ilmuan Islam sekaligus sebagai ulama waratsatul anbiya.
Motto
1. Muslim
Moderat : adalah sosok manusia muslim yang dapat bersikap luwes, tenggang
rasa, bersolidaritas etis dan sosial, hormat pada sesama, jauh dari sikap
angkuh, congkak dan ingin menang sendiri.
2. Mukmin
Demokrat : adalah sosok manusia beriman yang berakar ke bawah dan berpucuk
ke atas. pada saat di panggung kekuasaan dia tidak melupakan rakyat yang telah
membesarkannya ; dan pada saat dia turun dari panggung kekuasaan dan harus
kembali dengan rakyat, dia tidak putus semangat dan putus harapan.
3. Muhsin
Diplomat : adalah sosok manusia yang mencintai kejujuran, keadilan,
keberanian, kebajikan, keindahan, sopan santun dan berakhlak mulia. Dia akan
selalu mengedepankan sifat-sifat yang baik dan terpuji dalam menghadapi
berbagai persoalan hidup dan kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar